Tol Pejagan–Kanci, Gerbang Baru Solusi Kemacetan

Posted on

Jalan tol Pejagan–Kanci menjadi penghubung penting dua provinsi sejak 2010. Pengelola jalan tol yang menyambungkan Jawa Barat dengan Jawa Tengah tersebut bekerja keras untuk menghilangkan sumbatan kemacetan setiap kali mudik.

Upaya pertama dilakukan untuk mengurangi simpul kemacetan di jalan tol Pejagan–Kanci, yakni menghilangkan gerbang Mertapada. Pasca-Lebaran dua tahun lalu, sebenarnya wacana untuk menghilangkan gerbang Mertapada yang punya 11 pintu itu sudah dibahas. Namun, baru pada April lalu pembongkaran gerbang Mertapada dilakukan.

LAYAK DICOBA: Rajungan yang dijual di dekat ecit tol Kanci merupakan komoditas ekspor (BOY)

Menurut Kepala Cabang PT SMR Pejagan–Kanci Erwan Ari Pamungkas, efek pembongkaran gerbang Mertapada sudah terasa. Misalnya, ketika long weekend, tak lagi ada titik kemacetan di sana. ’’Awalnya, tujuan pembangunan gerbang Mertapada ini menjadi penahan sementara kalau di pintu keluar Pejagan terjadi penumpukan kendaraan. Tapi, dari evaluasi, ternyata gerbang Mertapada ini tidak efektif,’’ jelasnya.

Upaya pembongkaran gerbang Mertapada oleh PT SMR itu juga diikuti pembongkaran gerbang di ruas jalan tol lain yang dianggap malah menimbulkan kemacetan. Salah satunya gerbang Cikopo.

Ketika Jawa Pos melintas di gerbang Mertapada bulan lalu, gerbang di bagian tengah merupakan yang pertama dibongkar. Ditargetkan, sampai akhir tahun pembongkaran 11 gerbang itu bisa kelar.

Solusi kedua yang dilakukan PT SMR adalah mengoperasikan pintu keluar Ciledug. Pintu keluar Ciledug tersebut menjadi ujung tombak pengelola jalan tol Pejagan–Kanci untuk mengurai kemacetan.

Menurut Erwan, tahun lalu ketika pintu tol Brebes Timur yang merupakan ruas Pejagan–Pemalang ditutup, antrean kendaraan di pintu Pejagan mencapai 3 kilometer. ’’Tapi, begitu Brebes Timur dibuka, kemacetan itu langsung hilang,’’ ungkapnya.

Dari pengalaman tersebut, pengelola jalan tol Pejagan–Kanci kemudian memutuskan untuk mengoperasikan pintu keluar Ciledug secara penuh tahun ini. Pada hari ini (6/6) akan dilakukan uji coba dan pengecekan kesiapan pintu tol Ciledug.

Menurut Erwan, pintu keluar Ciledug akan menjadi solusi terbaik mudik buat mereka yang melintas di Pejagan–Kanci. Ketika pemudik memilih keluar di Ciledug, akan ada dua jalan yang bisa dijadikan opsi kembali ke daerah asal.

Pertama, jalan menuju Losari, Cirebon, yang kemudian lewat jalur pantai utara (pantura) Jawa. Kedua, jalan menuju Ketanggungan, Brebes. Dari Ketanggungan, pemudik bisa mengambil jalur ke arah Purwokerto dan melintasi jalur pantai selatan (pansela) Jawa.

’’Rabu besok (hari ini, Red) kami cek semua kelayakan operasi gerbang Ciledug ini. Mulai tingkat keselamatan, fasilitas, dan kenyamanan pelintas,’’ tegas Erwan. Sebagai gerbang tol baru yang beroperasi penuh tahun ini, Ciledug memiliki empat pintu pembayaran.

Dari perhitungan pria asal Banyuwangi tersebut, pintu keluar Ciledug tersebut bisa menyerap hingga 600 kendaraan per jam. Kemudian, per hari, berdasar kalkulasi Erwan, kendaraan bisa mencapai 15 ribu. (dra/c5/tom)

Jangan Lewatkan Rajungan dan Pepes Telur Kepiting

Bagi penyuka seafood, akan sayang melewatkan lezatnya rajungan yang menjadi salah satu khas Kanci, Cirebon. Sensasi membuka cangkang dan mengambil daging merupakan momen yang ditunggu. Apalagi ditambah saus pedas, makanan laut itu akan semakin nikmat saat disantap.

Nah, bagi pemudik yang sedang melintas di tol Pejagan–Kanci, ada baiknya mampir di warung rajungan tak jauh dari exit tol Kanci. Tak sampai satu kilometer, pemudik bisa menemukan sejumlah pedagang kepiting dan rajungan.

Mereka berjajar sepanjang Jalan Bypass Mundu, Kanci, Cirebon. Jaraknya sekitar 50 meter. Bahkan, penjual saling berhadapan di sisi jalan yang lain. Barang yang dijual sama. Yakni, rajungan, kepiting, dan pepes telur kepiting.

Tampak sederhana memang. Hanya berupa warung bambu berukuran sekitar 2 x 2 meter dan beratap terpal. Sebagian mempunyai tungku di bagian belakang warungnya. Bergantung mereka menjual kepiting dalam keadaan matang atau masih segar.

”Kalau mau dimakan langsung bisa, sudah saya rebus. Tapi, cuma pakai bumbu garam. Kalau mau lebih enak lagi, bisa dimasak dengan bumbu lain,” terang Santi, salah seorang pedagang rajungan, yang ditemui Jawa Pos pada Sabtu (12/5).

Satu kilogram kepiting masak dihargai Rp 100 ribu. Untuk rajungan, harganya bisa mencapai Rp 200 ribu per kilogram dengan cangkang. ”Untuk yang sudah dikupas tanpa cangkang, harganya Rp 350 ribu per kilogram,” imbuhnya.

Santi menjelaskan alasan perbedaan harga yang terpaut jauh tersebut. Menurut dia, kepiting biasa dipasarkan hanya di Cirebon dan sekitarnya. Sedangkan rajungan merupakan komoditas ekspor. Karena itu, dia dan pedagang kecil lain membutuhkan perjuangan lebih untuk mendapatkannya.

Dia mendapatkannya dari para nelayan di Desa Waruduwur, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Desa tersebut memang dikenal sebagai sentra kepiting dan rajungan di Cirebon. Meski Cirebon lebih dikenal sebagai kota udang, hasil laut berupa kepiting dan rajungan tak bisa dianggap kecil. ”Sekali ekspor bisa berton-ton rajungan,” jelasnya.

Karena hanya dimasak dengan dikukus dan ditambahi garam, makanan itu lebih cocok dijadikan buah tangan. Dibawa pulang untuk dimakan bersama sanak saudara di rumah. ”Bisa dimasak saus padang atau sup kepiting, sama enaknya. Sesuai selera,” kata Santi. 

(din/dra/c7/tom)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar