Tol Semarang Tambah Gardu Transaksi, Terapkan Sekali Bayar

Posted on

Eksistensi tol Semarang ada sejak lama. Tepatnya sejak 1983. Munculnya tol di sekitarnya menjadikan tol Semarang sebagai simpul pertemuan tol trans-Jawa di bagian tengah.

Jika bagian timur tol Semarang sudah berbatasan dengan tol Salatiga–Semarang, sisi baratnya segera tersambung dengan ruas tol baru, yakni Semarang–Batang. Titik pertemuannya berada di wilayah Krapyak. Persisnya setelah keluar dari gerbang tol (GT) Manyaran.

MEGAH: Masjid Agung Jawa Tengah di wilayah Kecamatan Gayamsari menjadi salah satu destinasi favorit pelintas Tol Semarang. (BOY SLAMET/JAWA POS)

Seiring pengerjaan yang masih berlangsung di GT Manyaran, tak pelak titik kemacetan baru muncul. Jika pada hari-hari biasa saja sudah macet, bisa dibayangkan betapa padatnya volume kendaraan saat Lebaran nanti.

Sebagaimana yang diungkapkan General Manager PT Jasa Marga Cabang Semarang Johannes Mancelly, jumlah kendaraan yang melintas pada puncak arus mudik diprediksi naik hampir 7 ribu. ”Tahun lalu puncaknya 36 ribu. Tahun ini diprediksi 43 ribu,” katanya.

Puncak arus mudik di tol Semarang diperkirakan jatuh pada H-5 Lebaran (10/6). Berkaca pada pengalaman tahun lalu, pengelola telah menyiapkan beberapa skema untuk mengurai kemacetan. Salah satunya, menambah jumlah gardu transaksi. ”Dari 8 menjadi 12,” ucap Johan.

Selain itu, pengelola bakal menerapkan sistem sekali bayar saat masuk tol. Yakni, pada gerbang masuk saja. Otomatis sistem tersebut akan menghilangkan sistem pembayaran di empat akses keluar GT. Masing-masing di Tembalang, Manyaran, Muktiharjo, dan Gayamsari.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan bahwa mengurai simpul kemacaten di Krapyak seiring adanya tol trans-Jawa menjadi tantangan kotanya.

Baca Juga :  Valuasi Divestasi Saham Freeport Sudah Diajukan Kepada Presiden Jokowi

Apalagi, selain tol, jalan-jalan perkotaan di Semarang bakal disesaki pemudik. ”Tahun lalu kami sukses mengatur lalu lintas contra flow dengan bantuan tolo-tolo (tiang pemisah) dan akan kami terapkan kembali tahun ini,” sebutnya.

Hendrar pun menyikapi secara positif keberadaan tol untuk menunjang sisi ekonomi. Perkembangan tempat penginapan dan restoran, misalnya, mengalami peningkatan. Pada 2011, tercatat hanya ada 168 penginapan di Kota Semarang. Tapi, pada 2017, jumlahnya menjadi 818 penginapan.

Bukan hanya itu. Semarang memiliki banyak destinasi wisata dan kuliner dengan nuansa yang berbeda. Misalnya, nuansa Arab bisa ditemui di kauman dan Masjid Agung Jawa Tengah. Lalu, nuansa Eropa di Kota Lama Semarang dan nuansa Tiongkok di pecinan dan Sam Po Kong. Ada pula nuansa alam yang tersaji di Gunungpati dan Mijen.

Imajinasi Utuh Kota Lama

DENI lahir di Kampung Perbalan, Semarang, 30 tahun lalu. Pada masa kecilnya, area Taman Srigunting di kawasan Kota Lama Semarang merupakan tempat bermainnya. Dalam ingatannya, Taman Srigunting merupakan area kumuh dan kurang terawat saat itu.

Namun, dalam empat tahun terakhir atau sejak Kementerian Pekerjaan Umum merevitalisasi area Kota Lama Semarang, Taman Srigunting pun bersolek. Pada hari libur dan akhir pekan, ruang terbuka hijau (RTH) itu tak pernah sepi pengunjung.

Saat ini Deni ikut memanfaatkan Taman Srigunting. Tidak hanya lebih hijau dan rindang, bau pesing yang dulu kerap diciumnya serta sampah yang bertebaran tidak lagi dijumpainya. ”Saya menyediakan miniatur sepeda antik dan becak yang ditarik orang untuk berfoto (di Taman Srigunting). Dapat ide dari komunitas sepeda antik Semarang,” kata pria 30 tahun tersebut.

Baca Juga :  Sejak H-8 hingga H-5, 361.495 Kendaraan Sudah Keluar dari Jakarta

Seiring sifatnya suka-suka, Deni tak memungut harga tinggi bagi mereka yang memakai sepedanya untuk berswafoto. Hanya diletakkan kotak hitam kecil di depan sepeda atau becak miliknya.

Selain sepeda antik dan becak milik Deni yang dipajang di Taman Srigunting, masih ada beberapa sepeda lain. Ada yang ditambahi bunga di keranjang depan. Ada yang dimodifikasi sepeda gandengan.

Imaji utuh kawasan Kota Lama tidak hanya tecermin dari kisah Deni. Lagu-lagu keroncong yang mengalun di Taman Srigunting semakin menenggelamkan diri dalam suasana vintage. Soundscape istilahnya. Jawa Pos menghitung ada delapan pengeras suara di seputar Taman Srigunting yang disamarkan dengan dicat hitam.

Di samping Taman Srigunting terdapat lokasi yang tak kalah ikonis. Yakni, GPIB Immanuel Semarang. Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah itu lebih dikenal dengan Gereja Blenduk.

Untuk menuju kawasan Kota Lama Semarang, pengunjung bisa keluar di pintu tol Gayamsari. Dari pintu tol tersebut area Kota Lama Semarang dan Taman Srigunting berada di arah barat daya sekitar 6,4 kilometer.

(din/dra/c25/dns)

Source link

Gravatar Image
Seorang Blogger Makassar